Selasa, 05 April 2011

Revolusi Hati

       Mahasiswa Hukum yang dulunya dalam proses akademisi sarat ide dan idealis rule of law, namun akhirnya menelan ludah ketika melihat kenyatan setelah lulus ada hukum yang tak tertulis. inilah terkadang yang membuat mereka frustasi, karena apa yang mereka pelajari dibangku kuliah, berbeda sekali dengan penerapannya dilapangan. konsekuensinya, seperti perumpamaan "Jika Ingin Belajar Berenang, Yah.!!! mau gak mau, harus basah".
       Kalau mereka kuat, dengan kekuatan yang ada mereka akan melakukan perlawanan. Tapi realitasnya dilapangan ternyata berbeda, tidak kurang banyak juga yang larut dan ikut arus besar, kebanyakan dari mereka mengekor, membeo dan masuk dalam barisan daftar orang bermasalah. Mereka terus berkomunikasi dan mengekor, karena ingin cepat sukses dan berhasil dalam mencapai sebuah tujuan dengan apapun caranya dan segala alibi untuk menghalalkan.
       Dari kalangan kaum muda sendiri sebetulnya sudah ada wacana kritis yang mengkhawatirkan kepemimpinan nasional. Mereka melihat selama lebih setengah abad, indonesia secara tragis mengalami kegagalan kepemimpinan nasional yang menyebabkan bangsa ini tidak saja jauh dari cita-cita luhur yang mewujudkan masyarakat adil dan makmur, tetapi rakyat menderita.
     Realitanya..? kenapa kita harus ambil pusing dalam masalah tersebut, toh saudara sudah bisa makan dan tidur,. jangan lupa kawan, diluar sana masih banyak teman-teman kita yang serba kekurangan, dengan produk lingkungan dan keterbatasan mereka terjerumus dalam ruang gelap dan lubang yang semakin dalam karena tidak mempunyai pilihan yang lebih baik.
      
       Kaum muda masa kini kurang berpotensi sebagai agen perubahan atau pembaruan sebab mereka berjuang penuh pamrih. Akibatnya, saat target obsesi pragmatisme tak tercapai, yang muncul menyumpah-serapah para pemimpin. Semakin lama, Sumpah Pemuda seolah-olah berubah menjadi ?sampah?. Itu terefleksi dari pudarnya nilai-nilai dan karakter kebangsaan serta lunturnya idealisme, moralitas, bahkan spiritualitas.
     

Senin, 21 Maret 2011

KUAT, MUDA DAN BERSINAR

Pemuda memiliki tantangan yang semakin rumit dan kompleks, sebab begitu banyak segi kehidupan berbangsa dan bernegara yang perlu ditransformasikan untuk mengatasi ancaman disintegrasi bagi bangsa kita. Konflik yang terjadi pun menjadi semakin rumit. Hampir di seluruh daerah di Indonesia, beberapa kelompok, baik agama maupun budaya, terus mengalami konflik yang akhirnya justru menelan korban jiwa bagi anggota kelompok mereka sendiri.
Konflik yang ada diselesaikan dengan jalan kerusuhan dan demonstrasi anarkis dimana-mana. Hal tersebut nyatanya tidak menyelesaikan masalah yang ada, dan justru menimbulkan masalah yang baru, seperti timbulnya korban jiwa, ketidaknyamanan masyarakat sekitar, dan mengganggu mobilitas masyarakat (khususnya di perkotaan). Terkadang malah demonstran tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan, malah menindas kaum lain yang memiliki kepentingan. Maka jelaslah disini bahwa kekerasan, kerusuhan, dan demonstrasi anarkis bukan jalan yang tepat dalam menyelesaikan konflik yang ada.
Sinergisnya kekuatan pemuda itu sendiri bergantung pada adanya kemauan yang besar dari para pemuda yang lelah melihat penderitaan bangsanya. Kita sebagai agen perubahan sudah seharusnya jengah dengan segala kebijakan-kebijakan yang hanya tinggal menjadi guratan kebijakan. Ketika suatu kebijakan belum berhasil, bahkan belum dijalankan, pemerintah sudah memiliki rencana untuk membuat kebijakan yang baru. Hal ini sungguh menyakitkan bagi masyarakat kita yang telah lama merindukan adanya transformasi dalam lembaga-lembaga pemerintahan. Penderitaan mereka seolah ditarik-ulur oleh pemerintah yang hanya membuat kebijakan-kebijakan normatif yang pada praktiknya tidak memberikan pengaruh apa-apa.
Pergantian rezim orde lama ke orde baru bahkan setelah memasuki rezim di orde reformasi saat ini, tidak banyak atau bahkan tidak ada sedikit pun memberikan perubahan bagi rakyat miskin Indoesia. Malah yang kemudian terjadi kesejahteraan di negeri ini hanya menjadi bagian dari mimpi kebanyakan rakyat Indonesia. Maka dari itu kita sebagai kaum muda Indonesia akan tetap selalu menjadi kabar buruk bagi penguasa yang belum mampu mensejahterakan rakyat Indonesia dan akan selalu bersama rakyat mewujudkan revolusi Nasioonal Demokrasi Kerakyataan.

Jayalah Selalu Pemuda Indonesia.!!!!

Senin, 14 Maret 2011

Pemuda Harus Takut Melakukannya

Indonesia menjadi ladang subur koruptor untuk menumpuk uang sebanyak-banyaknya. Selain aparat yang tidak tegas dan kerdil ketika dibentak, juga makin menyuburkan praktek korupsi karena hukuman yang cukup ringan bagi maling negara ini. Kita akan membuktikan setelah kasus Gayus yang tak selesai mungkin ini akan muncul kasus-kasus serupa dengan hukuman ringan.

Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa korupsi besar-besaran di negara ini tidak akan diusut tuntutas. Karena kalau diusut tuntas akan menyeret orang-orang istana yang sesungguhnya pelaku korupsi selama ini adalah mereka-mereka yang bertampang adem ayem dengan segala manuver pencintaraannya.

Kita menyadari bahwa penyakit korupsi di negara ini sudah menancap jauh ke dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Indikator yang paling kuat adalah merajalelanya penyakit ini di kalangan masyarakat. Hampir-hampir tidak diketahui lagi di mana ujung dan di mana pangkalnya, dan di mana harus dimulai melakukan pencegahan dan terapinya, dan di mana pula harus berakhir. Keadaan seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Para pemimpin dan penguasa harus melakukan tindakan memutuskan rantai tindakan korupsi ini, dengan memulai pertama-tama dari dirinya sendiri. Kalau hal ini dibiarkan terus, dikhawatirkan akan terjadi bencana yang amat dahsyat bagi bangsa dan negara ini, yang tidak hanya mengenai orang-orang yang melakukan tindakan korupsi, tetapi juga mereka yang tidak melakukan korupsi.

Ada dua hal terkait dengan korupsi yang dianggap penting untuk dikemukakan. Pertama adalah tentang munculnya mental korup. Kedua, cara mencegah korupsi, sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. Kedua hal tersebut saya rasa penting. Terkait dengan persoalan pertama, yaitu munculnya mental korup. Kiranya kita sepakat bahwa mental korup itu belum tentu dibawa oleh yang bersangkutan sejak mereka mendapatkan pekerjaan di kantor itu. Pada umumnya para pegawai baru menyandang idealisme yang tinggi. Di awal menerima status sebagai pegawai, mereka berniat akan bekerja sejujur dan sebaik mungkin. Akan tetapi ternyata, karena ada peluang, suasana yang memungkinkan, dan bahkan juga kultur yang mendukung, maka penyakit itu bersemi dan tumbuh. Akhirnya mental korup itu berkembang, apalagi tatkala mereka menempati tempat yang memungkinkan untuk melakukan kejahatan itu. Karena itu, praktek korupsi harus dibabat karena di samping merugikan orang lain, juga sangat merugikan bagi pelakunya.

Maka dari itu, Kita sebagai Pemuda harus memberi Kontribusi untuk ikut dalam membangun Gerakan Anti Korupsi demi menciptakan Pembangunan Untuk Negeri Pertiwi.